Indonesian Football Handicap Analysis_Bookmaker Ranking_Roulette calculation_Bet365_Baccarat Skills Road List

  • 时间:
  • 浏览:0

PeOnline gamblingneliti jOnline gamblingugOnline gamblinga menyebut penularan menguap ini sebagai echophenomena — atau perilaku meniru secara otomatis kata-kata atau tindakan orang lain. Echophenomena erat kaitannya dengan epilepsi dan autisme.

Seringkali kita ikutan menguap saat melihat orang lain sedang menguap, bahkan walau sebenarnya kita lagi nggak ngantuk-ngantuk amat. Nggak cuma pas melihat langsung aja, pas lagi nonton film, tayangan TV, atau iklan yang ada orang menguap pun kadang kita bisa ketularan menguap juga! Percaya nggak, waktu lagi nulis artikel ini dan baca-baca risetnya, saya pun bisa menguap berkali-kali lo! Asli, ajaib banget!

Temuan lain juga menyebutkan kalau penularan ini nggak hanya terjadi pada manusia. Kalau berdasarkan penelitian ini, anjing yang dianggap sebagai hewan dengan rasa empati yang tinggi, ternyata juga bisa tertular juga ketika manusia menguap. Pun dengan simpanse!

Ternyata semakin diberi rangsangan, semakin orang terdorong untuk meniru perilaku menguap. Ini menjawab dugaan awal bahwa memang respons menguap ada kaitannya dengan aktivitas motorik dalam otak manusia. Temuan lain, semakin partisipan diminta buat menahan keinginannya menguap setelah nonton video, justru semakin mereka terdorong untuk menguap.

Tim peneliti dari University of Nottingham, Inggris, sebagaimana dilansir dari laman National Geographic, pernah mempelajari fenomena ini. Mereka memonitor perilaku 36 orang sukarelawan saat menyaksikan video orang lain menguap. Pada percobaan pertama, partisipan diminta untuk nggak menguap saat menonton video. Percobaan kedua, instruksinya sama, tapi kepala mereka dipasang alat untuk menstimulasi saraf motorik dalam otak.

Tuh, kan beneran bukan mitos belaka. Jadi selama baca artikel ini dan lihat foto-foto orang menguap, sudah berapa kali kamu ikutan nguap? Hehehe…

Fakta di atas berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak normal dan penderita autisme. Ternyata anak-anak dengan kondisi normal lebih sering ketularan menguap dibanding mereka yang autis. Ini karena orang dengan spektrum autis memiliki gangguan yang memengaruhi interaksi sosial termasuk kemampuannya berempati. Para psikopat juga katanya lebih sulit ketularan menguap lo.

Kita mungkin selama ini menganggap kalau menguap menular itu cuma mitos belaka. Tapi ndilalah ada kelompok peneliti yang penasaran banget sama fenomena ini. Mereka pun mengundang sejumlah orang untuk diajak bereksperimen demi menjawab rasa penasaran yang mungkin sekarang jadi rasa penasaran kita juga. Memangnya apa sih alasan di baliknya? Kok bisa gitu nguap doang nular??

Dikutip dari laman The Conversation, ada teori lain yang menyebutkan kalau kerentanan seseorang tertular menguap ini ada hubungannya sama tingkat empatinya. Semakin tinggi empatinya terhadap orang yang sedang menguap, maka semakin mungkin ia ketularan menguap. Makanya, ketika yang menguap itu teman atau kerabat dekat, katanya sih kita cenderung lebih mungkin tertular.